Kematian
Kematian akan dialami oleh semua orang, semua makhluk ciptaan Tuhan tidak dapat menghindari kematian. Apakah yang diingat pertama kali oleh kita ketika mengingat kematian? Hal yang menakutkan, maut, atau sesuatu yang menyenangkan dan selalu dinanti-nantikan?
Setiap kita memandang kematian dari sudut yang berbeda, tetapi secara pribadi saya belajar sesuatu hal tentang kematian dari kejadian 3 hari yang lalu. Seorang bapak dari 2 orang anak dan 1 orang isteri tidak dapat menghindari kematian ini. Menurut informasi dari isteri ybs, bapak ini meninggal pada hari Selasa/ 1 Juni 2010 pk. 04:00 WIB di kota Bandung, karena akibat tabrak lari. Bapak ini adalah abang sepupu kandung saya, yang sebetulnya erat sekali hubungan darah dengan saya, tetapi secara batin jauh sekali.
Saya coba mengingat pertemuan terakhir dgn almarhum adalah sekitar awal tahun 2008, yaitu saat bapak ini datang ke rumah dalam kondisi mabuk dan sedang mengalami masalah dengan isterinya, kali itu ybs meminta ijin untuk tinggal di rumah. Tetapi kami sepakat untuk meminta ybs sebaiknya kembali pulang ke rumah isterinya dan menyelesaikan masalah rumah tangga mereka dengan baik. Dan sejak pertemuan itu hingga beliau meninggal kami tidak pernah bertemu lagi.
Rabu/ 2 Juni 2010 pukul 06:00 saya menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya sebelum berangkat kerja, jalan yang cukup jauh juga. Sesampainya di rumah ybs saya menyalami dan menyatakan bela sungkawa kepada setiap anggota keluarga. Sambil bertanya dalam hati, saya melihat ada kejanggalan rasanya, karena kematian yang tidak biasa dan juga tidak terlihat suasana duka dengan kesedihan atau tangis yang mendalam di sana sini, malah saya menemukan canda tawa di sana. Ibunya, adik-adiknya, anak dan isteri juga keluarga terdekat tidak terlihat seperti orang yang berduka. Baru kali ini saya melihat kematian yang seperti ini.
Dalam waktu yang tidak lama saya langsung meminta ijin untuk segera pulang krn harus segera bekerja. Di sepanjang perjalanan pikiran dan hati saya berkata, semoga kematian saya kelak tidak seperti ini.
"Janganlah kita jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah" (Galatia 6:9)
Setiap kita memandang kematian dari sudut yang berbeda, tetapi secara pribadi saya belajar sesuatu hal tentang kematian dari kejadian 3 hari yang lalu. Seorang bapak dari 2 orang anak dan 1 orang isteri tidak dapat menghindari kematian ini. Menurut informasi dari isteri ybs, bapak ini meninggal pada hari Selasa/ 1 Juni 2010 pk. 04:00 WIB di kota Bandung, karena akibat tabrak lari. Bapak ini adalah abang sepupu kandung saya, yang sebetulnya erat sekali hubungan darah dengan saya, tetapi secara batin jauh sekali.
Saya coba mengingat pertemuan terakhir dgn almarhum adalah sekitar awal tahun 2008, yaitu saat bapak ini datang ke rumah dalam kondisi mabuk dan sedang mengalami masalah dengan isterinya, kali itu ybs meminta ijin untuk tinggal di rumah. Tetapi kami sepakat untuk meminta ybs sebaiknya kembali pulang ke rumah isterinya dan menyelesaikan masalah rumah tangga mereka dengan baik. Dan sejak pertemuan itu hingga beliau meninggal kami tidak pernah bertemu lagi.
Rabu/ 2 Juni 2010 pukul 06:00 saya menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya sebelum berangkat kerja, jalan yang cukup jauh juga. Sesampainya di rumah ybs saya menyalami dan menyatakan bela sungkawa kepada setiap anggota keluarga. Sambil bertanya dalam hati, saya melihat ada kejanggalan rasanya, karena kematian yang tidak biasa dan juga tidak terlihat suasana duka dengan kesedihan atau tangis yang mendalam di sana sini, malah saya menemukan canda tawa di sana. Ibunya, adik-adiknya, anak dan isteri juga keluarga terdekat tidak terlihat seperti orang yang berduka. Baru kali ini saya melihat kematian yang seperti ini.
Dalam waktu yang tidak lama saya langsung meminta ijin untuk segera pulang krn harus segera bekerja. Di sepanjang perjalanan pikiran dan hati saya berkata, semoga kematian saya kelak tidak seperti ini.
"Janganlah kita jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah" (Galatia 6:9)
Comments
Post a Comment